Kesejahteraan Sosial

Jumlah Penduduk Miskin

Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran perorangan. Garis Kemiskinan merupakan representasi dari jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok minimum makanan yang setara dengan 2.100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan pokok bukan makanan.  Garis Kemiskinan (GK) yang merupakan batas rupiah minimum untuk memenuhi kebutuhan standar layak hidup untuk Masyarakat Kabupaten Boven Digoel tiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada tahun 2011 GK Kabupaten Boven Digoel mencapai Rp 255.543,- dan terus meningkat tiap tahunnya hingga mencapai Rp 348.780,- di tahun 2014.Jumlah penduduk miskin Kabupaten Boven Digoel yang memiliki pengeluaran perkapita per bulannya dibawah garis kemiskinan dari tahun 2011 hingga 2014 cenderung mengalami penurunan. Antara tahun 2011 hingga 2014, penurunan jumlah penduduk miskin yang paling besar terjadi dari tahun 2013 ke tahun 2014 sebesar 4,83 persen.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan Kabupaten Boven Digoel pada tahun 2015 mencapai 7,62. Angka ini adalah angka P1 terbesar dari tahun 2011 hingga 2015, yang mengindikasikan bahwa penduduk miskin pada tahun 2015 semakin bertambah karena kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk terhadap garis kemiskinan semakin jauh.

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) merupakan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Ukuran ini memberikan gambaran informasi yang saling melengkapi pada insiden kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks ini, maka semakin tinggi pula ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Indeks Keparahan Kemiskinan Kabupaten Boven Digoel pada tahun 2015 mencapai 3,82 persen.

Tabel 13.1. Statistik Kemiskinan Kabupaten Boven Digoel Tahun 2011-2015

Tahun Garis Kemiskinan (Rupiah) Penduduk Miskin Number Of Poor People P1 P2
Jumlah  Presentase
2011 255 543 500 25,81 3,29 0,56
2012 298 858 600 22,79 5,52 1,58
2013 331 147 400 23,70 3,69 0,87
2014 348 780 650 18,87 3,61 0,95
2015 379 630 12 200 19,50 7,62 3,82

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Boven Digeol, 2015

Penduduk Rawan Sosial

Anak Terlantar

Gambar 13.1. Jumlah Anak Terlantar di Kabupaten Boven Digoel, Tahun 2004-2015

 

Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2015

Gambar 13.1 menunjukkan bahwa jumlah anak terlantar di Kabupaten Boven Digoel pada tahun 2010 hingga tahun 2015 cenderung mengalami peningkatan. Peningkatan yang sangat signifikan terjadi dari tahun 2013 ke tahun 2014, dimana terjadi peningkatan jumlah anak terlantar hampir dua kali lipat. Pada tahun 2015, jumlah anak terlantar sama dengan tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 1.121 anak, dimana jumlah ini sudah termasuk anak yang putus sekolah.

Lanjut Usia/Jompo Terlantar

Gambar 13.2. Jumlah Lanjut Usia/Jompo Terlantar di Kabupaten Boven Digoel, Tahun 2004-2015

 

Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2015

Seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 13.2, penduduk lanjut usia atau jompo terlantar yang berada di Kabupaten Boven Digoel menurun dengan tajam jumlahnya dari tahun 2010ke tahun 2011, yaitu dari 301 jiwa di tahun 2010 menjadi 116 jiwa di tahun 2011.Kemudian pada tahun 2012 terjadi peningkatan jumlah penduduk usia lanjut menjadi 182 jiwa, dan jumlah ini bertahan hingga tahun 2015.

Wanita Rawan Sosial Ekonomi

Gambar 13.3. Jumlah Wanita Rawan Sosial Ekonomi di Kabupaten Boven Digoel, Tahun 2004-2015

 

Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2015

Pada Gambar 13.3 di atas tampak bahwa jumlah wanita rawan sosial di Kabupaten Boven Digoel dari tahun 2010 hingga tahun 2013 tidak mengalami perubahan, yaitu sebanyak 490 orang. Pada tahun berikutnya, yaitu tahun 2014, jumlah wanita rawan sosial menurun dengan sangat signifikan hingga hanya berjumlah 40 orang saja. Di tahun 2015 jumlah wanita rawan sosial ekonomi meningkat sebanyak empat kalinya dari tahun 2014, yaitu sebesar 2.061.

Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial

Organisasi sosial dan bantuan-bantuan sosial yang ada di Kabupaten Boven Digoel secara langsung maupun tidak langsung dapat menggali potensi-potensi yang ada dimasyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Tenaga Kerja Sosial Masyarakat (TKSM)

Dalam rangka meningkatkan tingkat kesejahteraan sosial masyarakat, Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel membentuk Tenaga Kerja Sosial Masyarakt (TKSM) serta diadakannya Organisasi Sosial  untuk mengembangkan potensi yang ada dimasyarakat.Berdasarkan laporan dari Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel bahwa tercatat dalam kurun waktu lima tahun terakhir yakni tahun 2010 sampai 2014 terdapat setidaknya 15 Tenaga Kerja Sosial Masyarakat yang tersebar di distrik-distrik, sedangkan di tahun 2015 jumlah ini meningkat menjadi 20 TKSM Selain itu juga terdapat 20 organisasi sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat guna membangun potensi dan pengembangan masyarakat. Hal ini dapat dilihat melalui gambar grafik 13.4 berikut ini.

Gambar 13.4. Jumlah Tenaga Kerja Sosial Masyarakat (TKSM) serta Organisasi Sosial di Kabupaten Boven Digoel Tahun 2010-2015

.

Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2015

Beras Untuk Penduduk Miskin (Raskin)

Beras miskin (Raskin) adalah bantuan dari pemerintah berupa beras yang dijual dengan harga yang sangat terjangkau oleh masyarakat yang kurang mampu. Alokasi dan realisasi raskin serta jumlah Kepala Keluarga penerima Raskin di Kabupaten Boven Digoel seperti tampak pada Gambar 13.5 dan gambar 13.6 berikut.

Gambar 13.5 Jumlah Alokasi dan Realisasi Penerima Beras Miskin
di Kabupaten Boven Digoel Tahun 2010 - 2015

 

Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Boven Digoel, 2015

Dari Gambar 13.5 di atas tampak bahwa pada tahun 2010, realisasi penyaluran Raskin sebesar 1.818.500 ton lebih besar dari alokasinya yang hanya sebesar 1.573.010 ton yang disalurkan kepada 8.823 kepala keluarga. Pada tahun 2011 terjadi kenaikan terhadap alokasi beras raskin yakni mencapai 1.666.540 ton dan semuanya terealisasi dan disalurkan kepada 9.253 kepala keluarga. Pada tahun 2012 terjadi peningkatan jumlah beras raskin baik yang teralokasi maupun yang terealisasi, yakni mencapai 1.890.000 ton dan semuanya direalisasikan kepada  10.500 kepala keluarga.  Pada tahun 2013 terjadi penurunan alokasi serta realisasi penyaluran beras miskin, dimana jumlah beras miskin yang teralokasi dan terealisasi sebanyak 1.710.000 ton dan semua diterima oleh 9.500 kepala keluarga. Di dua tahun berikutnya, yaitu tahun 2014 dan 2015, jumlah alokasi dan realisasi penyaluran beras raskin sama dengan tahun 2013, dengan jumlah KK penerima yang tetap dari tahun 2013 yaitu sebanyak 9.500 KK penerima yang ada di Kabupaten Boven Digoel.

Gambar 13.6 Jumlah Kepala Keluarga Penerima Beras Miskin
di Kabupaten Boven Digoel Tahun 2010 – 2015

.

Sumber: Bagian Perekda Kabupaten Boven Digoel, 2015