Kesehatan

Sarana Kesehatan

Kesehatan masyarakat merupakan faktor penting dalam menunjang kegiatan pembangunan. Baik tidaknya tingkat kesehatan masyarakat salah satunya dipengaruhi oleh ketersediaan sarana kesehatan yang layak.

Tabel 4.1. Jumlah Sarana Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, 2009-2015

TahunRumah
Sakit
Puskesmas
Perawatan
Puskesmas
Induk
Puskesmas
 Pembantu
Balai PengobatanPosyanduPolindes
SwastaPoskeskam  
(1)(2)(3)(4)(5)(6)(7)(8)(9)
2009 1 6 15 27 3 10 78 12
2010 1 6 16 27 3 10 78 15
2011 2 5 16 27 3 10 87 15
2012 2 5 15 25 4 10 94 15
2013 2 5 15 17 4 10 95 15
2014 2 5 20 24 4 5 94 9
2015 2 5 20 27 4 10 94 8

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, 2015

Sejak tahun 2011 hingga 2015, Kabupaten Boven Digoel telah memiliki dua Rumah Sakit yang telah beroperasi dan terletak di Distrik Mandobo dan Distrik Mindiptana. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.1, jumlah Puskesmas Perawatan sebanyak 6 unit pada tahun 2010 dan di tahun 2011sampai tahun 2015 jumlah puskesmas perawatan ini menurun menjadi 5 unit. Jumlah Puskesmas Induk di tahun 2015 tidak mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu tetap sebanyak 20 unit.Jumlah Puskesmas Pembantu terus mengalami peningkatan dari tahun 2013 sebanyak 17 unit menjadi 27 unit pada tahun 2015. Balai pengobatan yang terdapat di Kabupaten Boven Digoel, terdiri dari Balai Pengobatan Swasta dan Poskeskam. Balai Pengobatan Swasta tercatat dari tahun 2012hingga tahun 2015 tetap berjumlah 4 unit, sedangkanBalai Pengobatan Poskeskam dalam enam tahun terakhir ini tidak mengalami penambahan, tetap berjumlah 10 unit. Sarana kesehatan berupa Posyandu jumlahnya terus meningkat dari tahun 2010 yang berjumlah 78 unit menjadi 87 unit pada tahun 2011. Hingga tahun 2013 tercatat 95 unit sarana kesehatan berupa Posyandu. Namun pada tahun 2014, jumlah Posyandu mengalami penurunan 1 unit dari tahun sebelumnya, menjadi 94 unit hingga tahun 2015. Jumlah Polindes dari tahun 2013 hingga 2015 mengalami penurunan, dari 15 unit di tahun 2013 menjadi 9 unit di tahun 2014 dan kemudian berkurang lagi satu unit pada tahun 2015 sehingga menjadi 8 unit Polindes.

Tabel 4.2. Jumlah Sarana Kesehatan Pada Puskesmas Keliling Kabupaten Boven Digoel, 2009-2015

TahunPuskesmas Keliling
 Roda Empat (Mobil)Roda Dua (Motor)Speed BoatLong Boat
(1) (2) (3) (4) (5)
2009 10 31 10 1
2010 10 31 10 1
2011 10 41 10 1
2012 11 68 10 1
2013 9 45 8 1
2014 11 47 10 1
2015 13 14 16 1

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, 2015

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan hingga ke pelosok-pelosok kampung, Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel mengadakan sarana kesehatan berupa Puskesmas Keliling dengan fasilitas pelayanan berupa kendaraan roda empat (mobil), roda dua (motor), speed boat dan long boat. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.2, pada tahun 2015 jumlah sarana puskesmas keliling yang terbanyak adalah roda dua (motor) dengan jumlah 44 unit, diikuti dengan speed boat sebanyak 16 unit dan roda empat (mobil) sebanyak 13 unit, sedangkan sarana puskesmas keliling berupa long boat hanya terdapat 1 unit saja. Pada tahun 2015, hanya sarana puskesmas keliling berupa speed boat dan roda empat (mobil) yang mengalami penambahan jumlah unit dari tahun sebelumnya-tahun 2014, sedangkan sarana roda dua (motor) di tahun 2015 justru mengalami penurunan jumlah unit dari tahun sebelumnya.

Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan sangat diperlukan guna meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Tenaga kesehatan yang ada di Kabupaten Boven Digoel terdiri dari Dokter Umum, Dokter Gigi, Bidan, Apoteker, Asisten Apoteker, Perawat, Ahli Gizi, Sanitarian dan Analis Kesehatan.

Tabel 4.3. Jumlah Tenaga Kesehatan Berdasarkan Keahlian Pada Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel, 2009-2014

TahunDokterBidanApotekerAsisten
 Apoteker
PerawatGiziSanitarianAnalis
Kesehatan
UmumAhliGigi
(1)(2)(3)(4)(5)(6)(7)(8)(9)(10)(11)
2009 24 - 7 76 2 4 90 10 4 2
2010 23 - 5 87 2 3 113 11 6 2
2011 24 - 2 68 3 1 111 5 3 3
2012 14 - 3 83 8 5 144 12 8 7
2013 10 - 2 88 - 5 159 8 4 8
2014 15 - 3 73 4 3 125 9 5 5

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Boven Digoel 2014 dan Boven Digoel Dalam Angka 2015

Pada Tabel 4.3 tampak bahwa jumlah dokter umum mengalami penurunan yang sangat signifikan dari tahun 2011 ke tahun 2012, yaitu dari 24 orang menjadi hanya 14 orang. Hal ini juga terjadi pada tahun 2013 dimana jumlah dokter umum kembali menurun menjadi 10 orang.  Namun pada tahun 2014 jumlah dokter umum kembali bertambah menjadi 15 orang. Berbeda dengan dokter umum, dokter gigi hanya berjumlah 2 orang pada tahun 2013 dan bertambah menjadi 3 orang pada tahun 2014. Jumlah bidan pada tahun 2010 sebanyak 87 orang dan  ditahun berikutnya 2011 menurun sehingga jumlah bidan pada tahun 2011 menjadi 68 orang dan pada tahun 2012 kembali meningkat siginifikan menjadi 83 orang. Pada tahun 2013 jumlah bidan kembali meningkat menjadi 88 orang. Jumlah bidan di tahun berikutnya-tahun 2014- mengalami penurunan, hingga jumlahnya mencapai 73 orang. Jumlah apoteker terus mengalami kenaikan dari tahun 2010 yang berjumlah hanya 2 orang menjadi 8 orang di tahun 2012, kemudian jumlahnya menjadi berkurang di tahun 2014 menjadi hanya 4 orang apoteker. Tidak berbeda jauh dengan apoteker,  jumlah asisten apoteker di tahun 2014 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, dimana tahun 2012 dan 2013 sebanyak 5 orang menjadi hanya 3 orang asisten apoteker di tahun 2014. Jumlah perawat mengalami kenaikan dari tahun 2011 hingga tahun 2013, yaitu dari 111 perawat di tahun 2011 menjadi 159 perawat di tahun 2013. Namun di tahun 2014, jumlah perawat mengalami penurunan jumlah menjadi 125 perawat. Ahli gizi mulai ada di Kabupaten Boven Digoel pada tahun 2008 dengan jumlah 9 orang. Pada tahun 2010 jumlah ahli gizi yang ada sebanyak 11 orang dan di tahun 2011 mengalami penurunan jumlah ahli gizi menjadi 5 orang dan kembali mengalami peningkatan mejadi 12 orang pada tahun 2012. Namun pada tahun 2014, jumlah ahli gizi mengalami penurunan hingga menjadi hanya 9 orang.  Jumlah tenaga sanitarian di tahun 2010 sebanyak 6 orang dan jumlahnya menurun di tahun 2011 menjadi 3 orang dan mengalami peningkatan yang cukup signifikan pada tahun 2012 menjadi 8 orang. Di tahun berikutnya, jumlah tenaga sanitarian mengalami penurunan menjadi 4 orang di tahun 2013 dan 5 orang di tahun 2014. Sedangkan tenaga analis kesehatan baru ada di tahun 2007. Dalam perkembangannya, di tahun 2010 jumlah tenaga ini meningkat menjadi 2 orang dan di tahun 2011 kembali meningkat menjadi 3 orang serta di tahun 2012 menjadi 7 orang dan 8 orang di tahun 2013. Namun di tahun 2014, jumlah tenaga analis kesehatan mengalami penurunan menjadi hanya 5 orang.

Kesehatan Masyarakat

.

Kesehatan memegang peranan yang sangat vital dalam segala aspek kegiatan. Pembangunan di suatu daerah dapat berjalan dengan lancar jika seluruh masyarakatnya memiliki tingkat kesehatan yang lebih baik. Tingkat kesehatan masyarakat bisa dilihat dari semakin bertambah atau berkurangnya penyakit yang diderita oleh masyarakat di daerah tersebut. Seperti yang tampak dalam Gambar 4.1, penyakit saluran pernapasan dan malaria masih mendominasi penyakit yang diderita oleh masyarakat yang ada di Kabupaten Boven Digoel selama lima tahun terakhir, bahkan dua tahun terakhir ini, penyakit diare dan kulitpun berada di atas penyakit malaria. Dari tahun 2010 hingga 2014, penyakit saluran pernapasan adalah penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat dibandingkan penyakit lainnya. Dari Gambar 4.1 juga dapat dilihat hampir semua penyakit menurun jumlahnya dari tahun 2013 ke tahun 2014, kecuali kasus penyakit gigi yang jumlahnya meningkat sebesar 37 kasus dari tahun 2013 sehingga menjadi 3.712 kasus di tahun 2014. Penurunan jumlah penyakit yang paling signifikan adalah penyakit saluran pernapasan. Dari 36.738 kasus di tahun 2013 turun menjadi 26. 315 kasus. Terjadi penurunan jumlah kasus penyakit saluran pernapasan sebesar 10.423 kasus dari tahun 2013 ke tahun 2014. Penyakit yang memiliki jumlah kasus paling sedikit adalah penyakit campak, dimana hanya terdapat 3 kasus di tahun 2014.

.

Bila dilihat dari gambar 4.2 terlihat gambaran perkembangan jumlah kasus balita gizi buruk di Kabupaten Boven Digoel. Jumlah balita gizi buruk menurun secara pesat dari tahun 2010 yang berjumlah 24 kasus menjadi hanya 4 kasus pada tahun 2011. Pada dua tahun berikutnya, kasus balita gizi buruk mulai bertambah menjadi 6 kasus di tahun 2012 dan 10 kasus di tahun 2013. Di tahun 2014 jumlah kasus balita gizi buruk tetap sama dengan tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 10 kasus.